News  

Harga Sulfur Global Naik, PT Vale Pastikan Proyek Hilirisasi HPAL Pomala Tetap Berjalan Sesuai Rencana

SOROWAKO–  Kenaikan harga sulfur di pasar global yang belakangan menjadi perhatian industri tambang dan pengolahan nikel dipastikan belum berdampak signifikan terhadap proyek hilirisasi yang dijalankan PT Vale Indonesia. Perusahaan menegaskan seluruh proyek strategis, termasuk proyek berbasis teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL), masih berjalan sesuai target dan komitmen investasi tetap terjaga.

Head of Corporate Communication PT Vale Indonesia, Vanda Kusumaningrum, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan harga komoditas global, termasuk sulfur yang menjadi salah satu komponen penting dalam proses pengolahan nikel laterit kadar rendah.

“PT Vale Indonesia terus memantau secara aktif perkembangan harga komoditas global, termasuk sulfur, yang merupakan salah satu input dalam proses pengolahan nikel, khususnya pada teknologi HPAL,” ujar Vanda.

Menurutnya, fluktuasi harga sulfur merupakan bagian dari dinamika pasar internasional yang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari pergerakan harga energi dunia, kondisi geopolitik, hingga tingginya permintaan industri global terhadap bahan baku pendukung energi baru dan terbarukan.

Meski demikian, PT Vale menilai situasi tersebut masih berada dalam batas yang dapat dikelola melalui berbagai strategi mitigasi yang telah disiapkan sejak awal perencanaan proyek.

Vanda menjelaskan, perusahaan bersama para mitra strategis telah memasukkan berbagai skenario perubahan harga dalam perhitungan keekonomian proyek. Langkah ini dilakukan untuk memastikan proyek hilirisasi tetap memiliki daya tahan terhadap gejolak pasar global.

Selain itu, PT Vale juga menerapkan strategi pengadaan jangka panjang, efisiensi operasional, serta optimalisasi desain proses produksi guna menjaga daya saing usaha di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Saat ini, kami belum melihat dampak material terhadap timeline maupun komitmen investasi proyek hilirisasi yang sedang berjalan,” tegasnya.

Proyek HPAL yang dikembangkan PT Vale menjadi salah satu proyek hilirisasi paling strategis dalam industri nikel nasional. Teknologi HPAL digunakan untuk mengolah bijih nikel laterit kadar rendah menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku utama dalam produksi baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Pengembangan fasilitas tersebut merupakan bagian dari program Indonesia Growth Projects (IGP) Pomalaa yang berada di Pomalaa. Proyek ini diproyeksikan mulai rampung dan memasuki tahap operasi pada tahun 2026.
Keberadaan fasilitas HPAL Pomalaa dinilai akan memperkuat posisi PT Vale sebagai salah satu pemain utama industri nikel berkelanjutan di Indonesia sekaligus mendukung rantai pasok global kendaraan listrik yang saat ini terus berkembang pesat.

Di tengah meningkatnya persaingan industri baterai dunia, proyek hilirisasi seperti HPAL Pomalaa juga menjadi bagian penting dari agenda pemerintah dalam mendorong nilai tambah mineral di dalam negeri. Dengan hilirisasi, Indonesia tidak lagi hanya mengekspor bahan mentah, tetapi juga berperan dalam rantai industri baterai dan kendaraan listrik global.

PT Vale menegaskan bahwa keberlanjutan usaha tetap menjadi landasan utama dalam setiap keputusan bisnis perusahaan. Karena itu, seluruh proyek strategis akan terus dijalankan secara prudent dengan mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan, ketahanan operasional, dan penciptaan nilai jangka panjang.

banner 728x250