JAKARTA – PT Vale Indonesia Tbk mencatat kinerja keuangan yang solid pada triwulan pertama 2026, meski produksi nikel mengalami penurunan dibanding periode sebelumnya.
Perusahaan berhasil menjaga performa positif berkat harga jual nikel yang lebih tinggi serta efisiensi operasional yang terus ditingkatkan.
Sepanjang periode ini, produksi nikel dalam matte tercatat sebesar 13.620 ton, lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai lebih dari 17 ribu ton.
Penurunan ini disebut sebagai bagian dari strategi perusahaan dalam melakukan pemeliharaan terencana, termasuk pembangunan kembali Furnace 3 yang ditargetkan selesai pada semester pertama 2026.
Laba dan Pendapatan Tumbuh Signifikan
Di tengah penyesuaian produksi, PT Vale justru mencatat lonjakan kinerja keuangan.
Dalam rilis yang diterima redaksi pada Rabu (29/04/2026), disebutan bahwa pendapatan PT Vale Indonesia mencapai 252,7 juta dolar AS (setara dengan Rp4,3 triliun).
Sementara laba bersih melonjak 85 persen secara triwulanan menjadi 43,6 juta dolar AS (Rp742 miliar).
Kenaikan ini tidak lepas dari membaiknya harga nikel global.
Rata-rata harga nikel matte tercatat 14.213 dolar AS per ton, meningkat sekitar 15 persen dibanding periode sebelumnya.
Selain itu, EBITDA perusahaan juga tumbuh 29 persen menjadi 80,1 juta dolar AS, menunjukkan efisiensi operasional yang semakin kuat.
CEO dan Presiden Direktur PT Vale, Bernardus Irmanto, menegaskan bahwa perusahaan tetap mampu menjaga kinerja di tengah tantangan industri.
“Terlepas dari tantangan yang terus berlanjut dan lingkungan operasional yang tidak pasti, kami terus menunjukkan kemampuan kami untuk mempertahankan margin positif dan disiplin keuangan,” ujar Bernardus.
Ekspansi dan Strategi Pertumbuhan
Tahun 2026 menjadi fase penting bagi PT Vale dalam memperluas bisnis.
Perusahaan mulai mengoperasikan tiga blok tambang sekaligus, yakni Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa.
Langkah ini ditandai dengan dimulainya penjualan bijih nikel limonit dari Pomalaa, yang membuka peluang diversifikasi pendapatan ke depan.
Selain itu, PT Vale juga mencatat tonggak penting dengan memperoleh fasilitas pinjaman berbasis keberlanjutan senilai 750 juta dolar AS.
Skema ini menjadi yang pertama di sektor pertambangan Asia Tenggara dan memperkuat komitmen perusahaan terhadap praktik ESG.
Perusahaan juga mengalokasikan belanja modal sekitar 139 juta dolar AS untuk mendukung proyek pertumbuhan dan keberlanjutan operasional.
Bernardus menambahkan bahwa langkah ekspansi ini akan memperkuat posisi perusahaan di masa depan.
“Pada saat yang sama, kami memperluas portofolio komersial melalui dimulainya penjualan limonit dari Pomalaa, yang menjadi langkah penting dalam diversifikasi pendapatan dan keberlanjutan bisnis,” jelas Bernardus.
Dengan tren harga nikel yang diperkirakan tetap menguat, PT Vale optimistis dapat meningkatkan kinerja keuangan sepanjang tahun 2026, sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang

