MALILI– Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Luwu Timur baru saja merilis data pertumbuhan ekonomi untuk Triwulan I-2026. Meskipun secara agregat total pertumbuhan ekonomi Luwu Timur mengalami terkontraksi sebesar 2.31 persen akibat melemahnya produksi pertambangan bijih logam, sebuah anomali positif yang luar biasa justru ditunjukkan oleh sektor-sektor non-tambang.
Kepala BPS Luwu Timur, Abdullah Pannu, menyampaikan bahwa di balik tantangan yang dihadapi sektor pertambangan, mesin-mesin pertumbuhan baru di luar sektor ekstraktif telah terbentuk dan menunjukkan daya tahan (resiliensi) yang sangat kuat.
”Jika kita mengeluarkan pengaruh atau kontribusi dari sektor pertambangan, ekonomi Luwu Timur sebenarnya mampu tumbuh sebesar 13,87 persen (y-on-y). Angka capaian ini merupakan pertumbuhan ekonomi non-tambang tertinggi yang berhasil dicatat dalam lima tahun terakhir,” ungkap Abdullah Pannu.
Menurut Abdullah, pesatnya pertumbuhan non-tambang ini ditopang secara kokoh oleh lima sektor utama. Sektor Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan memimpin dengan kontribusi sebesar 24,35 persen. Sektor lain yang ikut menjadi pilar adalah Konstruksi sebesar 14,85 persen, Administrasi Pemerintahan sebesar 3,98 persen, Perdagangan sebesar 3,95 persen, serta Industri Pengolahan yang menyumbang 3,91 persen.
Secara triwulanan (quarter-to-quarter/q-to-q), lonjakan yang sangat signifikan terlihat pada sektor Administrasi Pemerintah yang melejit hingga 44,17 persen, disusul Konstruksi sebesar 30,29 persen, Transportasi sebesar 21,49 persen, Real Estate sebesar 15,60 persen, serta sektor Penyediaan Makan Minum sebesar 13,68 persen.
Faktor Pendorong Ketahanan Sektor Non-Tambang
Abdullah Pannu menjelaskan bahwa lompatan performa ekonomi non-tambang ini dipicu oleh masifnya pembangunan fasilitas perusahaan, kawasan industri, dan perumahan. Selain itu, peningkatan belanja pemerintah serta momentum pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) terbukti ampuh mendongkrak sektor administrasi pemerintahan secara signifikan sekaligus menggerakkan daya beli masyarakat.
”Meningkatnya mobilitas penduduk serta aktifnya kegiatan perdagangan, jasa, transportasi, akomodasi, hingga penyediaan makan minum turut memperkuat performa ekonomi non-tambang kita,” jelasnya.
Dari sisi kontribusi triwulanan (q-to-q), sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan keluar sebagai motor penggerak utama dengan andil sebesar 1,78 persen. Hal ini, menurut Abdullah, mempertegas bahwa sektor pertanian tetap menjadi fondasi ekonomi yang paling kokoh dan mampu menjaga denyut nadi perekonomian masyarakat hingga ke tingkat pelosok desa. Sektor pendukung lainnya adalah Administrasi Pemerintahan dengan andil 1,29 persen dan Real Estate dengan tambahan 0,11 persen.
Sensus Ekonomi 2026 Jadi Kunci Kebijakan Masa Depan
Melihat dinamika struktural ini, Abdullah Pannu menegaskan betapa krusialnya pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang tengah berjalan. Sensus ini diposisikan sebagai langkah vital untuk menyediakan data yang akurat, berkualitas, dan real-time demi mendukung percepatan pembangunan daerah.
”Data yang berkualitas, bermakna, dan berdampak ini nantinya akan sangat membantu Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dalam merumuskan kebijakan yang tepat sasaran, mengakselerasi program prioritas seperti PANDU JUARA, serta mencapai target indikator makro daerah,” tutur Abdullah.
Di akhir penyampaiannya, Kepala BPS Luwu Timur ini juga mengajak seluruh elemen masyarakat dan pelaku usaha untuk menyukseskan agenda nasional tersebut. “Keberhasilan sensus ini membutuhkan dukungan penuh dari seluruh pemangku kepentingan agar data yang dihasilkan benar-benar valid dan mencerminkan kondisi riil ekonomi Luwu Timur, terutama dalam mengawal momentum kebangkitan sektor non-tambang ini,” pungggas Abdullah Pannu. (*)

