MALILI – Bidang Cipta Karya, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Luwu Timur mulai mengakselerasi pelaksanaan program kegiatan prioritas (KPI) kepala daerah tahun 2026 dengan menyiapkan sejumlah program strategis yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Fokus pembangunan tahun ini tidak hanya pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup dan ruang publik. Salah satu program unggulan yang menjadi sorotan adalah pembangunan taman pintar yang dirancang sebagai ruang publik edukatif dan ramah masyarakat.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Cipta Karya, Hernawaty Taslim, mengungkapkan bahwa taman pintar akan dikembangkan secara bertahap di seluruh kecamatan di Luwu Timur hingga tahun 2030.
“Untuk tahap awal, pembangunan taman pintar akan dimulai di Kecamatan Malili dengan anggaran sekitar Rp1 miliar. Ini akan menjadi pilot project sebelum direplikasi ke kecamatan lain,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Meski demikian, konsep detail taman pintar tersebut masih dalam tahap perencanaan. Pemerintah daerah saat ini tengah menyusun Detail Engineering Design (DED) sebagai dasar teknis pembangunan, termasuk penentuan fasilitas yang akan disediakan.
Selain menghadirkan ruang publik edukatif, Bidang Cipta Karya juga memprioritaskan pembangunan infrastruktur dasar melalui penyediaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di tiga desa, yakni Desa Balo-balo, Desa Margolembo, dan Desa Tarengge. Total anggaran yang disiapkan untuk program ini mencapai Rp1,075 miliar.
Menurut Hernawaty, pembangunan SPAM menjadi langkah konkret pemerintah daerah dalam menjawab kebutuhan masyarakat terhadap akses air bersih yang layak dan berkelanjutan.
“Air bersih merupakan kebutuhan dasar. Karena itu, pembangunan SPAM menjadi prioritas Pemda untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa,” jelasnya.
Tak hanya fokus pada program tahun berjalan, Bidang Cipta Karya juga melanjutkan fondasi pembangunan dari tahun sebelumnya. Pada 2025, pihaknya telah menyelesaikan sejumlah dokumen perencanaan penting di sektor pendidikan dan pelatihan, termasuk studi kelayakan (Feasibility Study/FS) pembangunan Kampus Lagaligo dan Balai Latihan Kerja (BLK).
Dokumen tersebut dinilai krusial sebagai pijakan dalam menentukan arah pembangunan lanjutan, terutama dalam memastikan kesiapan teknis serta kelayakan investasi ke depan.
Dengan kombinasi program ruang publik, infrastruktur dasar, dan perencanaan jangka panjang, Pemkab Luwu Timur optimistis dapat mendorong pembangunan yang lebih merata dan berkelanjutan di seluruh wilayahnya.(*)

