BELOPA – Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh dan kembang pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang utamanya di periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menyebabkan tubuh anak Stunting lebih pendek dari pada anak seusianya.
Untuk mencegah Stunting ini, Bupati Luwu, Basmin Mattayang menghimbau agar masyarakat memanfaatkan pangan lokal untuk dikonsumsi.
Hal ini disampaikan Basmin saat menerima kunjungan kerja Deputi Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan (Lalitbang) BKKBN RI, Prof. Drh. Muh. Rizal Martua Damanik, MRepSc., PhD di ruang kerjanya, Kamis (8/12/22)
“Salah satu pangan lokal yang banyak ditemui di Kabupaten Luwu yaitu Sagu, dimana Sagu ini memiliki nilai gizi yang tinggi dan beragam, selain itu sagu dapat dikonsumsi setiap hari karena memiliki kandungan gula yang rendah” ujar Basmin
Menurut Basmin Stunting sangat erat kaitannya dengan masalah gizi sehingga pencegahannyapun harus dilakukan lewat intervensi gizi secara tepat dan seimbang dengan memanfaatkan pangan lokal yang banyak dijumpai di Tana Luwu.
“Selain sagu, Tim Penggerak PKK juga mendorong masyarakat agar memanfaatkan pekarangan dengan menanam sayuran salah satunya kelor yang tinggi gizi dan serat lewat Gerakan Tanam, Petik, Konsumsi” ujar Basmin
Basmin menambahkan untuk menurunkan angka Stunting sesuai dengan target pemerintah 14 persen di tahun 2024, Pemerintah Kabupaten Luwu melalui Tim Penggerak PKK didukung Dinas Pengendalian Penduduk dan KB dan dinas terkait lainnya aktif memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat.
Senada dengan Bupati Luwu, Deputi Lalitbang BKKBN RI, Prof. Rizal Damanik, menyebutkan pencegahan Stunting dapat dilakukan dengan memanfaatkan pangan lokal sebagai makanan alternatif untuk memenuh kebutuhan gizi anak.
“Potensi sagu indonesia sangat besar khususnya bagian indonesia timur, jadi sagu bisa menjadi makanan alternatif untuk meningkatkan gizi anak dengan mengolahnya merjadi berbagai jenis makanan yang bergizi” ujar Prof Rizal Damanik
Ditambahkan lewat Program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT), BKKBN mendorong resep-resep makanan berbahan pangan lokal dikreasikan dengan makanan lainnya sehingga bisa memberikan nilai gizi lebih kepada anak.
“Program DASHAT tidak hanya bagaimana membuat makanan bergizi saja, namun juga bagaimana memperkenalkan serta melestarikan makan lokal tersebut ditengah makanan cepat saji saat ini” terang Prof. Rizal Damanik
Prof Rizal Damanik juga menegaskan Stunting seharusnya tidak terjadi mengingat besarnya potensi pangan dan kekayaan alam Indonesia yang beragam bisa menjadi sumber gizi bagi masyarakat, namun kondisi saat ini angka Stunting Indonesia terbilang cukup tinggi.
“Sangat tidak pantas ketika Stunting terjadi di negara kita yang kaya akan sumber daya alam, jadi ada yang salah dengan pola asuh kita, untuk itu penting diilakukan edukasi kepada masyarakat bagaimana pola asuh yang benar, bagaimana memanfaatkan pangan lokal untuk mendukung kebutuhan gizi keluarga” harap Prof Rizal Damanik
Dalam kesempatan yang sama Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan, Dra. Hj. Andi Ritamariani, M.Pd mengatakan berdasarkan data SSGI tahun 2021 angka prevalensi Stunting Sulawesi Selatan masih diangka 27,4 persen diatas nasional 24,4 persen.
“Kabupaten Luwu merupankan salah satu kabupaten terendah keenam angka Stuntingnya, dimana angka Stunting di Kabupaten Luwu 22,8 persen” ungkap Andi Rita
Andi Rita menambahkan salah satu kunci keberhasilan Kabupaten Luwu dalam menekan angka Stunting yaitu kegemaran masyarakat Luwu mengosumsi makan lokal didukung peran aktif pemerintah daerah dengan berbabagi program inovatifnnya.
Turut hadir Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Luwu, Dr. Hayarna Hakim, SH, M.Si, Kadis Pengendalian Penduduk dan KB Kabupaten Luwu, Drs. Husain, Kadis Pertanian Luwu, Albaruddin Andi Picunnang SP, M.Si.(*)