MALILI – Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparmudora) Kabupaten Luwu Timur terus mendorong pengembangan sektor pariwisata berbasis masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan yakni meningkatkan kapasitas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) melalui pelatihan yang melibatkan 30 peserta dari berbagai wilayah di Luwu Timur.
Pelatihan tersebut digelar di Aula Wisma Golden House, Selasa (3/11/2026). Kegiatan ini menjadi langkah Disparmudora dalam mempersiapkan masyarakat agar lebih aktif mengambil peran dalam mengelola dan mengembangkan potensi wisata di daerah masing-masing.
Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Staf Ahli Hukum dan Pemerintahan, Aswan Asiz, S.Pi., M.Si., yang mewakili Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam.
Dalam sambutannya, Aswan menegaskan bahwa Luwu Timur memiliki potensi pariwisata yang sangat besar dan beragam. Mulai dari Danau Matano, Danau Towuti, Danau Mahalona, kawasan pantai, air terjun, hingga kekayaan budaya dan produk ekonomi kreatif masyarakat.
Namun, menurutnya, potensi tersebut tidak akan berkembang maksimal tanpa keterlibatan masyarakat dalam menjaga, mengelola, dan mempromosikan destinasi wisata.
Karena itu, keberadaan Pokdarwis dinilai memiliki posisi strategis. Bukan sekadar kelompok pendukung, tetapi menjadi penggerak kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menciptakan destinasi wisata yang bersih, aman, nyaman, tertib, indah, serta berkelanjutan.
“Melalui Pokdarwis, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku utama yang turut merasakan manfaat ekonomi dari sektor pariwisata di wilayahnya,” ujar Aswan.
Ia menjelaskan, pelatihan yang dilaksanakan Disparmudora tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas dan kompetensi pengurus maupun anggota Pokdarwis. Materi yang diberikan diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi juga menghasilkan keterampilan praktis yang dapat diterapkan langsung di lapangan.
Aswan juga menitipkan empat hal penting kepada peserta. Pertama, meningkatkan kepedulian terhadap potensi wisata di wilayah masing-masing, termasuk menjaga kebersihan, kelestarian lingkungan, budaya, dan kearifan lokal.
Kedua, meningkatkan kualitas pelayanan kepada wisatawan. Sebab, daya tarik sebuah destinasi tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam, tetapi juga keamanan, kenyamanan, keramahan, serta ketersediaan informasi yang memadai.
Ketiga, memperkuat kolaborasi dengan pemerintah desa, pelaku usaha, UMKM, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan. Pengembangan pariwisata membutuhkan kerja sama agar pengelolaannya berjalan lebih optimal.
Keempat, mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pengembangan kuliner lokal, kerajinan, jasa pemandu wisata, serta berbagai peluang usaha lainnya.
Dengan demikian, sektor pariwisata diharapkan tidak hanya menjadi daya tarik bagi pengunjung, tetapi juga mampu membuka lapangan usaha dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Aswan berharap seluruh peserta mengikuti pelatihan dengan serius, aktif berdiskusi, serta menggali solusi atas berbagai tantangan pengelolaan destinasi wisata di lapangan.
“Jadikan pelatihan ini momentum memperkuat komitmen bersama membangun pariwisata Luwu Timur yang berkualitas, berdaya saing, berbasis masyarakat, dan tetap menjaga kelestarian alam serta budaya,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, Disparmudora Luwu Timur diharapkan mampu memperkuat peran Pokdarwis sebagai ujung tombak pengembangan destinasi wisata sekaligus mendorong sektor pariwisata menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi masyarakat daerah.(*)

