Reses Perseorangan, Anggota DPRD Luwu Timur Ini Sorot Kondisi Kota Malili

Kamis, 23 Juli 2020 | 14:05 WITA
KabarLutim.com | Luwu Timur dalam Satu Klik

KABARLUTIM.COM,MALILI- Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, HM Siddik BM menyoroti kondisi Ibu Kota Kabupaten Luwu Timur yakni Kota Malili, saat menggelar reses perseorangan di halaman rumah pribadinya, Jl Poros Malili-Sorowako, Kelurahan Malili, Kecamatan Malili, Kamis (23/07/2020) siang.

Dalam reses tersebut, HM Siddik BM menerima aspirasi dan keluhan dari ratusan masyarakat (Konstituen) dari Kecamatan Malili dan Angkona.

Menurutnya, Kota Malili sangat memprihatinkan. “Saya sedih melihat kondisi Kota Malili,” ucapnya.

Dimana kata dia, Kota Malili tidak memiliki, bandara, Rumah Sakit, terminal dan lain-lain, sebagai bentuk ibu kota kabupaten, dan hanya kota Malili yang seperti ini di Indonesia.

“Jadi wajar saya mengatakan bahwa Kota Malili adalah ibu kota kabupaten tersunyi di Indonesia. Kita bisa lihat sendiri kondisinya sekarang, tidak usa saya jelaskan,” tandasnya.

Kemudian kata dia, ibu kota kabupaten ini tidak lagi mengacu pada dokumen publik RTRW, karena kota Malili tidak memiliki sebagaimana yang dipersyaratkan diantaranya memiliki Rumah Sakit dan Bandar Udara.

Untuk RS kata Siddik, kemarin dia menolak dibangun di Desa Atue, karena Kota Malili masih bayak lahan yang bisa digunakan.

“Saya tidak tahu apa yang menjadi pertimbangan pemerintah sehingga tetap berkeinginan membangunan RS di Desa Atue,” ucapnya.

Sementara kita tahu bahwa lokasi yang akan dibutuhkan RS ini sekitar 10 hektar, sementara di lokasi disana saya tidak tahu apakah cukup atau tidak, belum lagi diatas RS ini terbentang kabel listrik Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (Sutet).

“Kalau di daerah Jawa sana yang pernah saya kunjungi, ada sebuah RS yang seperti ini kondisinya, makanya RS itu dipindahkan ke tempat lain, nah kita di Luwu Timur dipertahankan,” ungkapnya.

Disisi lain, RS ini juga memiliki limbah, ketika RS ini tetap dipertahankan kasihan tambak yang berada disekitar lokasi bangunan RS.

“Inilah salah satu alasan kenapa saya menolak keberadaan RS di Desa Atue, tapi ya’ saya lihat pemerintah tetap ngotot, buktinya mereka sudah mulai melakukan penimbunan,” kuncinya.

Di reses tersebut, HM Sidik menyerap puluhan aspirasi masyarakat guna ditindaklanjuti melaui pembahasan anggaran nantinya.(***)

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
ARTIKEL TERKAIT